Minggu, 01 Mei 2011

Wanita Lebih Mudah Depresi

Bila rasa tidak berdaya dan tidak mampu menyerang secara intens, maka hal itu akan menyebabkan depresi. Dan menurut penelitian, kaum wanita memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami depresi dibandingkan pria. Wah….!

Masih ingat dengan kasus Anik Qoriah Sri Wijaya, seorang ibu rumah tangga di Bandung, beberapa waktu lalu membuat gempar masyarakat di tanah air. Wanita berusia 31 tahun itu dituduh membunuh ketiga anaknya, hanya karena alasan sepele, takut anak-anaknya itu menderita menghadapi tekanan hidup. Namun, jika memperhatikan keseharian keluarganya yang taat agama dan ekonomi tergolong cukup, rasanya banyak yang tidak percaya, jika Anik membeberkan alasan yang dinilai sangat sederhana itu.
Dengan kejadian ini Anik dipastikan mengidap paranoid. Ia dihinggapi rasa khawatir yang berlebihan atas nasib anaknya, sampai membuatnya depresi. Anik merasa takut tak bisa membesarkan ketiga anaknya dengan baik, hingga ia ambil keputusan, menghabisi nyawa ketiga anaknya sekalian. Menurut seorang psikiater, memperhatikan perbuatan Anik terhadap tiga anaknya, ia yakin wanita itu memang menderita paranoid yang kronis karena disertai depresi. Ia bahkan yakin, Anik melakukan itu bukan karena rasa benci kepada ketiga anaknya. Mereka hanyalah obyek pelampiasan. Karena itu, harus ditelusuri apa sumber depresinya, misalnya hubungan Anik dan suaminya.
Wanita Lebih Mudah Depresi
Apa yang dialami Anik, memang sudah termasuk depresi tingkat tinggi. Tapi, depresi sendiri sebenarnya bisa menyerang siapa saja, bahkan anak-anak. Tapi, sesuai penelitian, kaum wanita memang lebih mudah terserang depresi. Apalagi, sejak dulu, kaum wanita di Indonesia, sudah diposisikan untuk bisa menjadi wanita super, yang bukan hanya harus bisa menjadi wanita yang baik, tetapi juga harus bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya, ibu yang baik bagi anak-anaknya, dan jika ia seorang wanita karir, maka ia harus bisa menjadi seorang profesional yang handal. Wow…! That’s too much to bear, right?! Apalagi dalam budaya kita, there’s no room for mistakes karena kaum wanita juga menjadi patokan akan keberhasilan dan kemajuan sebuah keluarga, bangsa, lengkap dengan generasi penerusnya. Wuih…! Wajar dong kalau wanita lebih mudah kena depresi?!
Di dalam masyarakat kita, wanita lebih sering diajarkan agar mereka menjadi orang yang sempurna dan lebih mementingkan orang lain dibandingkan diri mereka sendiri. Jika Anda seorang ibu, istri, karyawan, atau anak dari orang tua yang telah lanjut usia, sukarelawan, mentor bagi orang-orang muda di tempat kerja atau di lingkungan keluarga, anggota beberapa perkumpulan pengajian atau arisan, Anda menggunakan terlalu banyak atribut.
Hati-hati, terlalu banyak peran yang harus Anda mainkan, terlalu banyak kewajiban yang harus disandang, dan terlalu sedikit waktu yang Anda miliki. Semua ini adalah resep untuk mendapatkan stres yang tinggi, terutama untuk wanita.
Berbagai penelitian tentang perubahan peran keluarga menemukan bahwa, walaupun pada pasangan dengan karir ganda, wanita lebih sering mendapatkan beban mengasuh anak, merawat rumah, merancang menu, memperhatikan pendidikan anak, merawat orangtua/mertua, dibandingkan suaminya.
Kendatipun di rumah tangga suami ikut terlibat, mereka cenderung memilih tugas yang dapat dilakukan sembarang waktu, seperti membawa mobil ke bengkel, membawa anak-anak jalan-jalan, atau merapikan halaman. Tugas wanita — dari belanja bulanan, mengurus kebersihan rumah, membantu si kecil mengerjakan PR, melayani suami, mempersiapkan menu makan sampai membawa anak-anak ke dokter dalam situasi darurat– cenderung terikat dengan waktu. Karena tidak ada waktu untuk “bernapas”, stres terus menerus tinggi. Stres yang  berkepanjangan dan berlarut-larut tersebut pada banyak bidang kehidupan menempatkan wanita pada risiko penyakit fisik dan depresi emosional.
Apalagi, kebanyakan perempuan menyerahkan kekuatan dasarnya sendiri setelah mereka menikah. Perempuan tipe ini sering rela mengabaikan latar belakang pendidikannya untuk mendukung pendidikan suami dengan harapan kemudian hari suaminya akan membalas budi. Namun, bila di kemudian hari perempuan ini justru kecewa dalam perkawinannya, maka kenyataan yang dia hadapi adalah mendapati dirinya tanpa pekerjaan dan tidak berdaya menghidupi diri sendiri. Serta-merta mereka akan menderita depresi berat. Gejala depresi biasanya adalah:
  • Sedih berlebihan, was-was, atau tidak bisa berpikir dengan jernih.
  • Kurang tidur, bangun terlalu pagi atau sebaliknya tidur terlalu lama.
  • Kurangnya nafsu makan dan atau berat badan turun drastis, atau sebaliknya nafsu makan meningkat dan berat badan naik.
  • Gelisah dan mudah marah. Dalam beberapa kasus, rasa marah ini akan dilampiaskan pada orang-orang di sekitarnya, seperti suami dan anak-anaknya.
  • Berpikir untuk bunuh diri atau mati.
Solusi Anti Depresi
Depresi sepertinya memang tak terhindarkan oleh kaum wanita. Tapi, bukan berarti ktia tidak bisa mengendalikan atau mengatasinya, lho. Dengan cara yang tepat, depresi tidak akan menjadi beban hidup, kok. Seorang psikolog terkenal, Ratih Andjayani Ibrahim, mengatakan bahwa wanita harus mulai melatih mengenali diri sendiri lengkap dengan semua kelebihan dan kekurangannya. “Jangan sampai kita terlalu memaksakan diri melakukan sesuatu hal, yang memang sudah menjadi suatu keharusan, melebihi kapasitas kemampuan diri. Karena pastinya akan membuat kita stres lalu jadi depresi,” ujar wanita cantik berusia 30 tahunan ini. Bagaimana caranya?
1.    Kenali dan terimalah keadaan diri sendiri.
2.    Selalu berusaha melakukan yang terbaik, tapi jangan sampai memaksakan diri.
3.    Disiplinkan diri dengan berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi setiap hari.
4.    Kompromikan antara kemampuan diri dengan keadaan.
5.    Belajar untuk ikhlas menerima kenyataan.

source

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar