Minggu, 17 April 2011

Sang Trisula Weda


Sebelumnya saya pribadi minta maaf nih buat para logger semua, dan terutama kepada si pembuat artikel ini. Kebetulan saya udah lama ngopi artikel ini dan buruknya saya lupa siapa pembuat sekaligus yang ngepost artikel ini. Saya juga udah nyoba nyari di beberapa web, tapi tetep aja ga ketemu... Tapi, berhubung saya ingin sekali berbagai artikel ini dengan logger-logger semua, yaudah saya coba post aja. Kalo ada yang ngerasa memiliki artikel ini, sekali saya mohon maaf yang sebesar-besarnya... Ok, kalau begitu langsung aja, semoga artikel ini bermanfaat buat para sahabat logger yang saya cintai.. Let's see..........

Siapa yang tidak mengenal Prabu Jayabaya dari Kediri. Raja yang memiliki semacam nubuwat atau ramalan akan nasib bangsa Indonesia dihari akan datang ini, ternyata pernah memberikan sebuah ramalan akan munculnya seorang satria piningit yang bersenjatakan trisula. Raja Jayabaya memang terkenal dengan ramalan-ramalan yang belum bisa diterima masyarakat pada zamannya seperti kemunculan pesawat, perempuan yang berlaku seperti laki-laki, banyak anak hasil hubungan zinah, pelanggaran terhadap hukum agama, dan pembangkangan istri terhadap suami. ada ramalan yang sepertinya agak dilupakan dari keseluruhan ramalan tersebut, yaitu muncul seorang satria yang memiliki senjata trisula pemberian dewa yang mana akan menguasai Indonesia dengan adil, jujur, dan berwibawa sehingga seluruh masyarakat akan ikhlas dipimpin olehnya.
Mari kita simak ramalan Jayabaya tersebut:
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun, sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu, bakal ana dewa ngejawantah apengawak manungsa, apasurya padha bethara Kresna,  awatak Baladewa agegaman trisula wedha jinejer wolak-waliking zaman wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar utang nyawa bayar nyawa utang wirang nyaur wirang
Kurang lebih berarti: Selambat-lambatnya menjelang akhir tahun, akan muncul seorang dewa berbadan manusia, yang berwajah seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa, mempunyai senjata trisula wedha, tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang hutang membayar, hutang nyawa dibayar nyawa, hutang malu dibayar malu.
Selanjutnya masih dalam ramalan tersebut:
mula den upadinen sinatriya iku, wus tan abapa, tan bibi, lola, awus aputus weda Jawa, mung angandelake trisula
landheping trisula pucuk
, gegawe pati utawa utang nyawa, sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda
Yang kurang lebih berarti: Oleh sebab itu, carilah satria itu, yatim piatu, tak bersanak saudara, sudah lulus wedha Jawa dan hanya berpedoman pada trisula, ujung trisulanya sangat tajam, mmebawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang merugikan orang lain, yang dikiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan.
Masih pada ramalan tersebut:
iki dalan kanggo sing eling lan waspada, ing zaman kalabendu Jawa, aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa, cures ludhes saka braja jelma kumara, aja-aja kleru pandhita samusana larinen pandhita asenjata trisula wedha, iku hiya pinaringaning dewa
yang bermakna: Ini adalah jalan bagi orang yang ingat dan waspada, pada zaman kalabendu* Jawa, jangan melarang orang yang mengormati orang seperti dewa, yang akan menghalangi sirna seluruh keluarga, jangan kleiru mencari dewa, carilah dewa bersenjata trisula wedha, itulah pemberian dewa.
Pada bait terakhir tertulis ciri-ciri satria yang bersenjatakan wedha tersebut, atau lebih tepat berkepribadian dia:
nglurug tanpa bala, yen menang tan ngasorake liyan, para kawula padha suka-suka, marga adiling pangeran wus teka, ratune nyembah kawula, angagem trisula wedha, para pandhita hiya padha muja, hiya iku momongane kaki Sabdopalon, sing wis adu wirang nanging kondhang, genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngresula kurang, hiya iku tandane kalabendu wis minger, centi wektu jejering kalamukti, andayani indering jagad raya padha asung bhekti
yang berarti: menyerang tanpa pasukan, dan kalau menang tidak menistakan yang lain, rakyat bersuka ria, karena Yang Kuasa telah tiba, raja menyembah rakyat, bersenjatakan trisula wedha, para pendeta memuja-mujinya, dia itu adalah asuhan dari Sabdopalon, yang menanggung malu tetapi menjadi terkenal, semuanya tampak terang benderang, tak ada yang mengeluh kekurangan, itulah tanda zaman kalabendu telah usai, memperkokoh tatanan jagad raya, semua menaruh rasa hormat yang tinggi.
Adapun ramalan secara globalnya:
Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
One day there will be a cart without a horse.
(Kereta Apikah ?)

Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah Jawa berkalung besi.
The island of Java will wear a necklace of iron.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu berlayar di ruang angkasa.
There will be a boat flying in the sky.
(Pesawatkah ?)

Kali ilang kedhunge.
Sungai kehilangan lubuk.
The river will loose its current.
Pasar ilang kumandhang.
Pasar kehilangan suara.
There will be markets without crowds.
(Supermarketkah ?)

Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat.
These are the signs that the Jayabaya era is coming.
Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi semakin lama semakin mengerut.
The earth will shrink.
Sekilan bumi dipajeki.
Sejengkal tanah dikenai pajak.
Every inch of land will be taxed.
Jaran doyan mangan sambel.
Kuda suka makan sambal.
Horses will devour chili sauce.
Wong wadon nganggo pakeyan lanang.
Orang perempuan berpakaian lelaki.
Women will dress in men’s clothes.
Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.
These are signs that the people is facing the era of turning upside
down.
Akeh janji ora ditetepi.
Banyak janji tidak ditepati.
Many promises unkept.
Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe.
Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Many break their oath.
Manungsa padha seneng nyalah.
Orang-orang saling lempar kesalahan.
People will tend to blame on each other.
Ora ngendahake hukum Allah.
Tak peduli akan hukum Allah.
They will ignore God’s law.
Barang jahat diangkat-angkat.
Yang jahat dijunjung-junjung.
Evil things will be lifted up.
Barang suci dibenci.
Yang suci (justru) dibenci.
Holy things will be despised.
Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.
Banyak orang hanya mementingkan uang.
Many people will become fixated on money.
Lali kamanungsan.
Lupa jati kemanusiaan.
Ignoring humanity.
Lali kabecikan.
Lupa hikmah kebaikan.
Forgetting kindness.
Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara.
Abandoning their families.
Akeh bapa lali anak.
Banyak ayah lupa anak.
Fathers will abandon their children.
Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibu.
Children will be disrespectful to their mothers.
Nantang bapa.
Menantang ayah.
And battle against their fathers.
Sedulur padha cidra.
Saudara dan saudara saling khianat.
Siblings will collide violently.
Kulawarga padha curiga.
Keluarga saling curiga.
Family members will be suspicious of each other.
Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.
Friends become enemies.
Akeh manungsa lali asale.
Banyak orang lupa asal-usul.
People will forget their roots.
Ukuman Ratu ora adil.
Hukuman Raja tidak adil
The ruler’s judgments will be unjust.
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Banyak pembesar jahat dan ganjil
There will be many peculiar and evil leaders.
Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak ulah-tabiat ganjil
Many will behave strangely.
Wong apik-apik padha kapencil.
Orang yang baik justru tersisih.
Good people will be isolated.
Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Banyak orang kerja halal justru malu.
Many people will be too embarrassed to do the right things.
Luwih utama ngapusi.
Lebih mengutamakan menipu.
Choosing falsehood instead.
Wegah nyambut gawe.
Malas menunaikan kerja.
Many will be lazy to work.
Kepingin urip mewah.
Inginnya hidup mewah.
Seduced by luxury.
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
They will take the easy path of crime and deceit.
Wong bener thenger-thenger.
Si benar termangu-mangu.
The honest will be confused.
Wong salah bungah.
Si salah gembira ria.
The wrong doers will be very happy
.
Kalau kita melihat sekilas, ada penekanan terhadap “senjata trisula wedha” yang akan dipakai oleh sang satria tersebut. sebagian kalangan meramalkan bahwa satria tersebut menggunakan kekuatan darat, laut, dan udara seperti kekuatan Tentara Nasional Indonesia sehingga dapat menguasai keadaan sebuah negeri. Pada ramalan perihal paras dan watak, disebutkan bahwa dirinya berparas seperti Kresna dan berwatak seperti Baladewa. Kresna sendiri dalam pewayangan merupakan titisan Batara Wisnu yang menjadi penasihat perang Pandawa Lima dalam perang Bharatayudha dengan kulit yang hitam, mungkin saja sang satria ini memiliki keahlian strategi seperti Kresna dalam pewayangan. Wataknya seperti Baladewa yang keras, keras disana juga multitafsir, bisa juga diartikan sebagai orang yang berada di jalan yang lurus tidak perduli kiri dan kanan ditambah ramalan di bawahnya “sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda” yang tidak peduli dengan pencurian atau sejenisnya, mungkin dalam konteks kekinian adalah, satria tersebut tidak korup di dalam pemerintahan.
Satria tersebut digambarkan seseorang yang lurus, jujur, dan mengayomi segenap rakyat sehingga tokoh agama (pandhita) memujinya karena konsistensinya menegakkan kebenaran. Trisula wedha sendiri saya belum menemukan sebuah tafsiran yang pas mengenainya, tapi tidak menutup kemungkinan di era web 2.0 orang tersebut bersenjatakan: world wide web bukan?


*Zaman Kalabendu berarti zaman yang tidak menentu




*kita tambahin nih ilustrasi gambarnya buat para logger yang mungkin ada yang ga tau bentuk trisula kaya gimana. (boleh ngentit dari si mbah google)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar